Kementerian Keuangan AS menjual euro, bukan dolar, untuk membantu menopang yen Jepang pekan lalu. Bank Sentral Eropa baru mengetahui transaksi ini setelah perdagangan selesai.
Christine Lagarde dan Scott Bessent baru membicarakan langkah tersebut sehari setelahnya. Tapi, pada waktu itu, Federal Reserve New York sudah mengeksekusi penjualan atas nama Kementerian Keuangan AS.
Mengapa Washington Memilih Euro, Bukan Dolar
Secara historis, bank sentral Barat saling berkonsultasi sejak Perang Dunia II. Mereka biasanya merencanakan intervensi mata uang secara bersama-sama dan terbuka di awal.
Kali ini, Washington memutus pola itu. Sebaliknya, mereka baru memberi tahu ECB setelah transaksi selesai.
USD/JPY turun dari sekitar 163 menjadi di bawah 158 pada akhir Juli, dan stabil di kisaran 158,40 per 7 Agustus. Sumber gambar: Trading View
Disponsori
Disponsori
Pemilihan euro ini memang disengaja. Jika mereka menjual dolar, itu bisa memberi sinyal bahwa Bessent mengendurkan kebijakan dolar kuat sehingga Kementerian Keuangan pun memilih menjual cadangan euro saja.
Beberapa analis berpendapat aturan yen carry trade sudah tidak berlaku, sehingga proses pertahanan mata uang perlu langkah-langkah lain. Bessent sendiri sudah membahas soal intervensi yen ini lewat penjelasan intervensi yen miliknya langsung.
Di sisi lain, para ekonom mengaitkan langkah ini dengan kekhawatiran bahwa Jepang bisa saja membalas dengan menjual obligasi pemerintah AS.
Reaksi Eropa Setelah Tidak Dilibatkan
Pejabat senior ECB menyebut peristiwa ini memutus koordinasi yang sudah berlangsung selama puluhan tahun. Seseorang yang dekat dengan diskusi itu menyebut situasi kali ini sungguh tidak pernah terjadi sebelumnya.
Juru bicara Kementerian Keuangan membela keputusan tersebut.
“Keputusan terkait alokasi Exchange Stabilization Fund dibuat oleh Kementerian Keuangan AS, dengan memperhatikan penilaian Kementerian Keuangan dan Federal Reserve terkait likuiditas pasar, valuasi, serta pertimbangan lain yang relevan.”
Namun, seorang pejabat senior di pemerintahan Trump menyanggah kritikan itu. Pejabat tersebut mengemukakan bahwa Washington menghormati kerahasiaan dalam pembicaraan dengan pihak luar negeri dan membedakan pendekatan itu dengan cara ECB memproses kejadian ini.
Dampak di Pasar dan Potensi Kejadian Selanjutnya
Langkah intervensi menekan yen dari sekitar ¥164 ke sekitar ¥158 terhadap dolar. Sementara itu, bursa saham Jepang menyerap guncangan tersebut hanya dengan penurunan tipis saja.
Trader sekarang memperkirakan peluang 44% Bank of Japan akan menaikkan suku bunga di bulan September. Gubernur BoJ Kazuo Ueda sendiri sudah menyoroti risiko inflasi yang semakin besar sebagai alasan perlu hati-hati.
Kejadian ini membuat para pembuat kebijakan Eropa bertanya-tanya apakah langkah ini hanya satu kali atau bisa jadi cermin bagaimana pemerintahan Trump menghadapi pertahanan mata uang bersama sekutu di masa depan.


